This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 20 November 2010

Perlukah Nyamuk Di Musnahkan



Punahnya satu makhluk pasti berdampak pada ekosistem secara keseluruhan. Tapi, jika yang punah adalah nyamuk penyebab berbagai penyakit seperti malaria, demam berdarah, hingga chikungnya, adakah dampak negatifnya?

Perlukah hewan satu ini dihabisi agar dunia terbebas dari penyakit akibat serangga?


Nyamuk merupakan salah satu serangga yang sudah ada sejak zaman dulu kala. Peneliti memperkirakan, serangga ini sudah hidup berdampingan dengan makhluk lain di muka bumi ini, sejak 100 juta tahun yang lalu.


Dari lebih dari 3.500 spesies nyamuk di muka bumi ini, sebenarnya hanya ada ratusan spesies yang menyerang manusia. Namun, tak dapat dipungkiri, nyamuk menjadi salah satu musuh utama, karena menularkan berbagai penyakit mematikan.

Berbagai upaya pernah dilakukan oleh manusia untuk melenyapkan nyamuk, terutama jenis tertentu yang menularkan penyakit. Sebagian besar memang masih sebatas riset di laboratorium, namun prospeknya cukup menjanjikan.

Salah satunya pernah dilakukan oleh tim dari University of Oxford. Rekayasa genetika yang dilakukan tim tersebut berhasil menciptakan nyamuk jantan yang jika mengawini nyamuk betina, maka akan menghasilkan nyamuk tak bersayap.

Meski bisa menggigit, nyamuk mutan tersebut tidak bisa terbang, karena tidak memiliki sayap. Karena nyamuk betina harus terbang untuk bisa minum darah, lama-kelamaan nyamuk tidak bisa berkembang biak, lalu punah.

Dengan teknologi yang sama, tim dari University of Arizona juga pernah menghasilkan nyamuk anophales yang kebal virus malaria. Meski tidak bertujuan untuk memusnahkan nyamuk, cara ini juga bertujuan untuk melenyapkan penyakit
malaria.

Seandainya nyamuk-nyamuk mutan itu bisa diproduksi secara masal lalu dilepas ke alam dan menyebabkan kepunahan, dampak seperti apa yang akan terjadi?


Dikutip dari Nature, Rabu (18/8/2010), dampak paling besar dari punahnya nyamuk akan terjadi di habitat tundra (padang es), kutub utara. Di tempat yang merupakan sarang terbesar bagi spesies nyamuk Aedes impiger dan Aedes nigripes, migrasi burung akan berkurang hingga 50 persen, karena berkurangnya salah satu makanan kesukaan para burung.

Migrasi satwa yang lain juga akan terpengaruh, antara lain karibu atau sejenis rusa kutub. Ribuan karibu yang sebelumnya menghindari gigitan nyamuk akan menyerbu wilayah tundra, lalu diikuti para serigala yang merupakan predator utama para karibu.

Spesies ikan pemakan nyamuk, Gambusia affinis juga terancam punah, jika nyamuk sudah tidak ada. Punahnya ikan ini sedikit banyak tentunya juga akan berdampak pada rantai makanan yang terjadi di perairan air tawar.

Terlebih lagi, larva atau jentik nyamuk turut memegang peran dalam penguraian sampah organik. Saat berada di genangan air, jentik-jentik tersebut mendapatkan nutrisi untuk tumbuh dari sisa-sisa tanaman yang membusuk.

Namun, banyak kalangan menilai, dampak yang terjadi di ekosistem tersebut, sebanding dengan tingkat kematian pada manusia akibat gigitan nyamuk. Malaria misalnya, tercatat menelan 247 juta korban jiwa di seluruh dunia setiap
tahunnya.

Apalagi para pakar meyakini, berbagai jenis insektivora (pemakan serangga) tidak akan terlalu kesulitan beradaptasi untuk beralih memangsa serangga lain jika sudah tidak ada nyamuk. Sedangkan untuk penguraian sampah organik, peran jentik nyamuk bukan tak tergantikan karena masih banyak jenis pengurai yang lain.

Read more: http://siradel.blogspot.com/2010/08/perlu-nyamuk-di-musnahkan.html

Mantan Serdadu Rela Tatto 223 Nama Temannya Yang Gugur Di Medan Perang


Seorang mantan serdadu Inggris bernama Shaun Clark merelakan tubuhnya di penuhi tatto tulisan nama-nama temannya sesama prajurit yang tewas di medan pertempuran di Afghanistan. Seperti kita ketahui Inggris bersama beberapa negara dalam komando Amerika mengirimkan pasukannya untuk memerangi rezim Taliban di Afghanistan. Namun belakangan ini korban dari pihak sekutu Amerika itu terus berjatuhan dipatahkan oleh perlawanan gerilyawan Taliban.

Shaun Clark menyadari betapa sangat sedihnya keluarga-para serdadu yang ditinggal mati untuk selamanya, bagaimana dia merasakan para keluarga kehilangan orang yang mereka cintai gugur sebagai pahlawan bagi mereka . Untuk itu Clark ingin tetap berusaha mengenang teman-temannya selamanya dengan cara mentattokan nama 233 tentara Inggris tersebut di tubuhnya.Lebih dari 4 jam waktu dihabiskan untuk mentato nama sebanyak itu di sekujur tubuhnya.


Siapapun tidak ingin kehilangan sanak saudara dari upaya peperangan, tidak hanya tentara Inggris yang gugur menginggalkan keluarganya, melainkan pastinya juga para Gerilyawan Talibanpun tidak ingin gugur dan berpisah dengan keluarganya bukan? Lalu kenapa perang? Konflik di Afghanistan lebih mengarah ke pertentangan faksi-faksi yang ada disana. Namun karena Taliban tidak disukai oleh negara-negara barat maka merekapun membantu pemerintah yang berkuasa disana (pemerintahan boneka bentukan Amerika Cs) untuk menghabisi rezim Taliban. Harus diakui ternyata tidaklah mudah mematahkan perlawanan Taliban. Tentara Barat pun sangat banyak yang gugur disana. Mungkin sudah saatnya Amerika dan sekutunya tidak mencampuri urusan negara lain, biarkan mereka berunding dan menyelesaikan sendiri konflik dan pertikaian dengan cara mereka sendiri.


Baca Selengkapnya Disini : http://www.unikaja.com/2010/11/mantan-serdadu-rela-tatto-223-nama.html

Terungkap, Orang Amerika Pertama yang Injak Eropa



Jakarta –Tim universitas Spanyol menemukan orang yang pertama sampai di Eropa ternyata lima abad lebih awal sebelum Christopher Colombus menemukan Amerika.

Para ilmuwan menelusuri asal-usul genetik satu keluarga Islandia yang dipercaya sebagai orang Amerika pertama yang tiba di Eropa sekitar abad ke-10. Orang-orang ini tiba tepat lima ratus tahun sebelum Columbus melakukan pelayaran pertamanya pada 1492.


Kisah Norse menyatakan Viking menemukan orang Amerika berabad-abad sebelum Columbus. Data terbaru tampak mendukung hipotesis Viking membawa orang Indian Amerika (Amerindian) ke Eropa utara.

Penelitian menunjukkan manusia dari benua Amerika Utara itu kemungkinan tiba di Islandia pada 1.000 Sebelum Masehi (SM), dan meninggalkan gen miliknya yang tercermin pada 80 orang Islandia saat ini.

Peneliti menemukan, gen ini merujuk pada nenek moyang yang sama di selatan Islandia, dekat gletser Kull Vatnaj. Sebelumnya, terdapat 1.710 teori awal menyatakan kemungkinan mereka tiba melalui Asia.

”Pulau itu praktis terisolasi dari abad ke-10 dan seterusnya, hipotesis yang paling mungkin adalah gen ini berhubungan dengan wanita Amerindian yang dibawa Viking dari Amerika pada 1.000 SM,” kata Carles Lalueza-Fox dari Pompeu Fabra University di Spanyol.

Pemukiman Viking di L'Anse aux Meadows wilayah timur Canada Terranova, diperkirakan berasal dari abad ke-11. Peneliti mengatakan akan terus berusaha menentukan kapan gen Amerindian pertama tiba di Islandia.

Selain itu, peneliti akan terus mencari hubungan mereka terhadap sisa-sisa pemakaman di Amerika. Penelitian genetik ini dipublikasikan oleh Spanyol Centre for Scientific Research dalam American Journal of Physical Anthropology

Sumber:http://teknologi.inilah.com/read/detail/983912/terungkap-orang-amerika-pertama-yang-injak-eropa

[Wow] Pulpen Yang Bisa Memindai Warna Dari Benda Apapun






Saat ini, telah ada teknologi baru pulpen masa depan, yang dapat menscan warna dari benda apapun yang ada disekitar kita. Pulpen ini bisa digunakan secara instant, baik untuk menggambar, maupun menulis.

Pulpen ini dinamakan Color Picker Pen. Inovasi konsep pulpen masa depan ini diciptakan oleh seorang designer asal korea, Jinsu Park. Cara menggunakannya pun sangat mudah, yaitu : pertama tempelkan sensornya pada objek warna yang kita inginkan, kemudian tekan tombol scan. RGB cartridge akan berfungsi, sehingga warna yang kita mau akan muncul di display pada pulpen tersebut.









Read more: http://siradel.blogspot.com/2010/11/pulpen-yang-bisa-menscan-warna-dari.html

Jumat, 19 November 2010

Alat Canggih Untuk Mendeteksi Bom di Dalam Koper


Tragedi bom yang meledak dan beberapa kali terjadi di Indonesia kebanyakan dilakukan oleh orang yang membawa tas/ backpack dan kemudian meninggalkannya di lokasi tertentu dan kemudian meledak. Mengerikan memang!!!

Proyek SUBITO (Surveillance of Unattended Baggage and the Identification and Tracking of the Owner) adalah sebuah proyek keamanan yang nantinya diharapkan bisa mengidentifikasi seseorang (yang mencurigakan) berikut dengan barang bawaannya seperti koper/ backpack.

Teknologi ini akan bisa mengidentifikasi tas yang ditinggalkan oleh sang pemilik kemudian sekaligus juga melacak keberadaan si pemilik.



Sederhananya, jika seseorang meninggalkan tas di airport/ gedung, otomasti teknologi ini melakukan pemantauan dengan memberikan tanda kotak merah pada tas dan juga orang tersebut dan mengikutinya. Dan dengan cepat teridentifikasi maka pihak keamanan bisa langsung memburu si pelaku walaupun mungkin saja ini hanya masalah tas ketinggalan dengan tidak sengaja. :-)



Teknologi yang digunakan adalah kombinasi beberapa teknologi keamanan yang sudah ada dan salah satunya teknologi Samurai yaitu CCTV pintar yang bisa menditeksi orang yang mencurigakan.

source: http://naruto-r.blogspot.com/2010/09/alat-pendeteksi-koper-yang-berisi-bom.html

10 Fakta Mengesankan Tentang Hidup di Luar Angkasa


1.Satu hari mengalami 17x matahari terbit

Matahari terbit dan terbenam setiap 90 menit di orbit , sehingga sangat sulit untuk tidur nyenyak karena tidak adanya hari normal / siklus malam. Untuk mengatasi ini, administrator ISS mengatur jadwal astronot untuk menjaga agar kegiatan mereka sesuai. Jam onboard ISS diset ke Greenwich Mean Time (GMT). Untuk menjaga astronot tetap pada jadwalnya, Mission Control melakukan panggilan saat bangun tidur. Untuk mengisi waktu Mereka biasanya memainkan musik dan kegiatan sejenisnya

2.Anda Akan Tumbuh lebih tinggi



Tanpa gaya tekan gravitasi, tulang belakang Anda berkembang dan Anda tumbuh lebih tinggi, biasanya antara 5cm dan 8cm. Sayangnya, tinggi ekstra dapat membawa komplikasi, yang dapat mencakup masalah sakit punggung dan saraf.


3.Berhenti Mendengkur



Sebuah studi 2001 menunjukkan bahwa astronot yang mendengkur di Bumi tertidur diam di ruang angkasa. Itu karena gravitasi memainkan peran yang dominan dalam generasi apneas, hypopneas, dan mendengkur. NASA bahkan telah merekam aktivitas awak kapal yang sering mendengkur , tetapi efek gravitasi nol muncul untuk mengurangi mendengkur.

4.Beberapa makanan dan bumbu membutuhkan penambahan air untuk dimakan



Dalam pesawat, garam dan merica tersedia tetapi hanya dalam bentuk cair. Hal ini karena astronot tidak menaburkan garam dan merica pada makanan mereka di ruang angkasa. Garam dan merica hanya akan mengambang. Sangat berbahaya karena bisa menyumbat ventilasi udara, mencemari peralatan atau terjebak dalam mulut, mata atau hidung astronot.

5.Astronot terlama yang tinggal di pesawat selama 438 hari



Rekor untuk misi terlama dipegang oleh kosmonot Rusia Valeri Polyakov, yang menyelesaikan 438 hari (atau 14 bulan) perjalanan dinas di dalam stasiun ruang angkasa Mir pada tahun 1995

6. Hanya 3 orang yang pernah meninggal di pesawat antariksa



Para awak dari Soyuz 11, Georgi Dobrovolski, Viktor Patsayev dan Vladislav Volkov, tewas setelah undocking dari stasiun ruang angkasa Salyut 1 setelah tinggal tiga minggu.

7. Hampir setiap astronot mengalami space sickness



Dengan tidak adanya gravitasi, sinyal dari sistem vestibulary dan reseptor tekanan menjadi kacau. Efeknya biasanya menyebabkan disorientasi pada tubuh: banyak astronot tiba-tiba merasa diri mereka seperti terbalik, atau bahkan mengalami kesulitan dalam penginderaan lokasi lengan dan kaki mereka sendiri. disorientasi ini adalah penyebab utama dari apa yang disebut Space Adaptasi Syndrome

8. Hal yang paling sulit adalah untuk Adaptasi ketika Anda kembali dari ruang angkasa



Ketika mereka kembali ke bumi, astronot harus beradaptasi kembali seperti pengalaman ketika mereka pertama kali ke ruang angkasa. Ada satu fase adaptasi yang agak lama untuk di biasakan, Beberapa kosmonot Rusia telah melaporkan bahwa beberapa bulan setelah penerbangan , mereka masih sesekali melepaskan cangkir atau benda lain di udara - dan bingung ketika jatuh ke lantai

9. Radiasi Cosmic membuat Anda melihat Silauan saat berkedip



Menatap keluar dari kapsul ruang mereka, astronot Apollo menyaksikan pemandangan yang manusia belum pernah lihat sebelumnya. Mereka melihat pemandangan bumi yang biru terang terhadap. Mereka melihat sisi jauh Bulan. Mereka juga melihat kilatan cahaya aneh di dalam bola mata mereka!

10. Anda mungkin harus mengambil spons mandi untuk kebersihan diri



Sementara stasiun seperti Skylab dan Mir telah dilengkapi dengan pancuran,Banyak astronot mengganti spons mandi dengan menggunakan waslap atau handuk basah. Hal ini akan mengurangi jumlah air yang dikonsumsi. Setiap astronot juga akan memiliki kit kebersihan diri dengan sikat gigi, pasta gigi, shampoo, pisau cukur dan perlengkapan mandi dasar lainnya.

Sumber= http://wahw33d.blogspot.com/2010/11/10-fakta-mengesankan-tentang-hidup-di.html

Hewan-hewan Yang Dimanfaatkan Untuk Berperang



Para kesatria di atas kuda bisa merusak formasi pasukan musuh. lumba-lumba angkatan laut membantu membersihkan Pelabuhan Umm Qasr dari ranjau. tentara Roma dan Yunani menggunakan lebah untuk menghalangi musuh.

Itulah sebagian hewan yang digunakan dalam perang. Hewan-hewan bisa jadi “senjata biologis” karena kemampuan mereka, paling tidak pada saat itu, tidak dapat disamai oleh kemampuan mesin. Berikut ini adalah sejumlah hewan yang seringkali dimanfaatkan dalam konflik.


Kelelawar
Kemarahan Amerika Serikat atas serangan Jepang ke Pearl Harbor menelurkan ide memasang bom di kelelawar. Percikan api diharapkan dapat dipicu untuk membakar kota-kota Jepang saat kelelawar ini bertengger di atap bangunan. Namun rencana ini batal, karena dalam pengujian banyak kelelawar tidak kooperatif dan kabur. Hingga kini, ilmuwan Pentagon masih mempelajari bagaimana mekanisme terbang kelelawar ini untuk mengembangkan desain pesawat dan robot mata-mata.

Unta
Di masa lampau, hewan ini banyak digunakan di kawasan panas dan kering di Afrika Utara dan Timur Tengah. Karena unta memiliki kemampuan bertahan di kondisi ekstrem dan seringkali tanpa air, di masa perang hewan ini cukup berguna. Bau unta kabarnya membuat takut kuda-kuda yang digunakan musuh. Tentara Persia terkadang mempersenjatai unta mereka. Sedangkan prajurit Arab seringkali menunggang unta saat penyerbuan untuk menaklukan suatu daerah. Peran unta dalam perang merosot sejak berkembangnya senjata api. Tapi, unta masih terlihat digunakan saat Perang Dunia I.

Lebah
Sengat lebah bisa jadi senjata mematikan. Di zaman dulu, tentara Roma dan Yunani menggunakan lebah untuk menghalangi musuh. Penggunaan lebah berlanjut saat abad pertengahan, Perang Dunia I, dan Perang Vietnam. Ilmuwan Amerika Serikat juga menemukan kegunaan lebah untuk tujuan damai, yakni mendeteksi ranjau darat.

Singa laut
Mamalia ini mampu melihat dalam kondisi cahaya minimal serta bisa mendengar di bawah permukaan air. Singa laut juga bisa berenang dengan kecepatan hingga 40 km/jam dan menyelam hingga kedalaman 300 meter. Dengan kemampuan ini, angkatan laut AS melatih singa laut untuk menandai ranjau.

Merpati
Hewan ini memiliki kemampuan navigasi sehingga bisa kembali ke sarang meskipun telah menempuh perjalanan ratusan kilometer. Puncak kepopuleran penggunaan merpati terjadi pada saat Perang Dunia I, saat tentara sekutu menggunakan 200.000 merpati untuk keperluan komunikasi. Seekor Merpati bernama Cher Ami mendapat penghargaan setelah mengirim 12 pesan untuk benteng di Verdun, Prancis. Bangsa burung pensiun dari tugas militer setelah teknologi komunikasi berkembang pesat.

Lumba-Lumba
Hewan ini memiliki sonar biologis untuk mencari ranjau berdasarkan konsep gema. Pada masa Perang Teluk dan Perang Irak, lumba-lumba milik angkatan laut membantu membersihkan pelabuhan Umm Qasr dari ranjau.

Gajah
Hewan besar ini bisa menginjak tentara, menusukkan gading, dan melempar orang dengan belalainya. Kerajaan kuno di India diperkirakan menjadi kerajaan pertama yang menjinakkan gajah. Tapi, kemampuan ini segera menyebar ke Persia dan Timur Tengah. Alexander Agung dikabarkan pernah menemui sepasukan gajah saat mencoba menaklukan suatu daerah. Kuda seringkali takut dengan pemandangan dan bau Gajah. Tentara manusia juga merasa diteror secara psikologis dengan bentuk Gajah yang sangat besar.

Keledai
Tidak sehebat hewan perang lainnya, tapi ribuan pasukan akan menderita jika tak ada Keledai. Pasalnya, hewan inilah yang didaulat membawa makanan, bahkan persenjataan dan barang-barang lain yang dibutuhkan militer. Dulu, tentara Roma membawa satu Keledai tiap 10 legiun. Napoleon Bonaperte juga menaiki keledai saat melintasi Alpen. Keledai masih sering mendapat tugas militer hingga saat ini. Tentara AS bergantung pada hewan ini untuk mengantar barang ke pos-pos terpencil di pegunungan Afghanistan.

Anjing
Orang-orang Spanyol menggunakan anjing yang dipersenjatai saat menaklukan Amerika Selatan di abad ke-16. Anjing juga berperan besar selama konflik di abad pertengahan di Eropa. Tugas anjing di masa modern kini meliputi mendeteksi bom dengan indera penciuman. Di Irak dan Afghanistan, anjing militer dikenakan rompi antipeluru demi menjamin keamanan selama bertugas.

Kuda
Nah, ini hewan yang paling populer saat perang berlangsung. Manusia telah menjinakkan kuda setidaknya sejak 5.500 tahun lalu. Para kesatria di atas kuda bisa merusak formasipasukan musuh. Stabilitas di atas pelana dan sanggurdi membuat prajurit Mongol dapat berperang dan menembakkan panah dari atas kuda. Pertempuran besar dengan memanfaatkan kuda tidak berakhir, hingga tank dan senapan mesin muncul menjadi favorit.


source: http://uniqpost.com/10370/hewan-hewan-yang-digunakan-dalam-peperangan/

'Kamera Darah' Bantu Investigasi Pembunuhan





Jakarta - Sebuah penemuan baru bisa membantu tim investigasi menguak kasus pembunuhan hanya dengan memotret bercak darah di tempat kejadian perkara (TKP). Ya, ini bisa dilakukan dengan bantuan 'kamera darah'.

Tim peneliti yang dipimpin Stephen Morgan dan Michael Myrick dari University of South Carolina di Kolombia, mengembangkan prototipe kamera yang menggabungkan cahaya infra merah dan lapisan transparan yang terbuat dari albumin protein.

Dilansir New Scientist dan dikutip detikINET, Senin (15/11/2010), lapisan transparan tersebut berfungsi sebagai penyaring dan mampu mendeteksi noda darah dengan menyaring panjang gelombang yang tidak berciri khas protein darah.

Dengan demikian, kamera dapat membuat zat tidak terlihat muncul kembali dan memungkinkan tim forensik lebih cepat memindai TKP untuk meneliti noda darah tanpa merusak bukti berharga lainnya. Hebatnya lagi, kamera ini dapat mendeteksi noda darah, bahkan meski sampel darah telah diencerkan sebagian.


Seperti diketahui, metode yang kerap digunakan untuk mendeteksi darah saat ini adalah dengan menggunakan cairan luminol. Cairan kimia itu umumnya disemprotkan di sekitar TKP dan bereaksi dengan zat besi dalam noda darah, sehingga menghasilkan cahaya biru yang dapat terlihat dalam gelap.

Luminol sendiri sebenarnya adalah racun yang bisa mencairkan sampel darah sehingga DNA sulit diteliti. Selain itu, penggunaan luminol dapat merusak pola percikan darah yang bermanfat bagi ahli forensik untuk menentukan bagaimana korban meningal. Luminol juga bereaksi dengan bahan lain seperti pemutih atau minuman soda dan kopi, sehingga hasil investigasi rentan positif palsu.

Nah, 'kamera darah' tentunya akan menjadi sebuah penemuan yang sangat bermanfaat. Kamera ini dapat membedakan darah dan zat lain di sekitarnya, dan bisa digunakan untuk meneliti tempat-tempat bernoda darah yang memerlukan analisa kimia lebih lanjut tanpa merusak sampel.

Sumber:http://www.detikinet.com/read/2010/11/15/162025/1494800/398/kamera-darah-bantu-investigasi-pembunuhan/?i991102105

Ukuran Bulan Menyusut



Jakarta - Sebuah studi yang telah dipublikasikan baru-baru ini menyebutkan bahwa ukuran bulan terus menyusut secara signifikan dalam 800 juta tahun terakhir, sebuah waktu yang dianggap singkat dalam hitungan astronomi.

Penemuan ini langsung mendapat tanggapan luas dari ilmuwan dalam bidang sains, khususnya ilmu astronomi. Beberapa ilmuwan bahkan percaya bahwa proses penyusutan itu masih berlangsung.

Menggunakan ribuan foto bulan yang diambil secara berkala, para ilmuwan di Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, menemukan adanya tumbukan antarlereng di permukaan bulan yang mereka sebuat sebagai “lobate scarp”.

Lobate scarp dapat ditemukan hampir di seluruh permukaan bulan. “Lobate scarp membuat permukaan bulan saling bertemu sehingga salah satu bagiannya masuk ke bawah lereng. Itu yang membuat ukuran bulan menyusut,” kata Tom Watters, ilmuwan NASA.


Lobate scarp “baru” yang bermuculan dapat terlihat di permukaan bulan. Para ilmuwan menggunakan fenomena ini untuk melihat sejarah geologi bulan. Diperkirakan peristiwa ini terjadi akibat suhu udara di bulan yang terus menurun.

Para ilmuwan kini tengah meneliti di mana ujung dari lobate scarp itu untuk mengetahui seberapa aktif penyusutan bulan. “Bulan bukan benda mati. Prosesnya berlangsung jutaan tahun, bahkan ada yang hanya ribuan tahun. Tapi dalam astronomi itu adalah waktu yang singkat dan kami menganggap penyustan masih berlangsung,” ucap Tom.

Meski begitu para ilmuwan menyatakan kita tak perlu terlalu khawatir dengan fenomena penyusutan ukuran bulan ini. Sebab, dampaknya belum terlalu terasa bagi kehidupan di dunia dan bulan masih akan mengitari bumi di orbitnya.

Sumber:http://www.tempointeraktif.com/hg/sains/2010/11/15/brk,20101115-291892,id.html