Sabtu, 01 Oktober 2011
FOTO Kocak cara bebek menghukum Anaknya yg nakal [No Hoax]
Begini Ceritanya ada bebek kecil yang berenang-renang sendiri an, jauh dari induknya. indukya yang mengetahui langsung mengejar & menggigit kakinya si bebek kecil...wadoooh makkkk...sakittttt.......ampon.......




Gimana gan Sadis bukan :D





Gimana gan Sadis bukan :D
Inilah Tanaman Pendeteksi Bom

Para ilmuwan sudah terbiasa dihadapkan pada suatu masalah. Tapi, bagaimana setiap masalah menjadi tidak masalah, itu adalah fungsi dan tugas para ilmuwan. Apakah kita pernah berpikir tentang sejenis tumbuhan yang dapat mendeteksi teror bom?
Ilmuwan Colorado State University, Amerika Serikat (AS) mengembangkan tumbuhan yang memungkinkan pendeteksian ancaman teror bom. Bagaimana ceritanya?
Profesor June Medford bersama timnya tengah mengembangkan tanaman hijau yang bisa berubah warna menjadi putih, saat mendeteksi keberadaan senjata kimia atau biologi yang bisa meledak di sekitarnya.
Ketika berubah putih, hal itu menjadi peringatan tanda bahaya akan terjadi ledakan di sekitar area itu dan orang diharapkan mencari tempat aman.
“Kami memodifikasi benih tanaman. Sifat dan kemampuan ini stabil dan menempel pada tumbuhan itu selamanya,” papar Medford.
Demikian, tanaman bisa digunakan untuk keamanan dan memberitahu akan adanya bahaya ledakan bom, lanjutnya. Medford menegaskan, menggunakan tanaman untuk mendeteksi patogen dan bahan kimia berbahaya sangat masuk akal. Contohnya, pisang berwarna hijau ketika belum masak di iklim bumi bagian utara kecuali jika terekspos gas ethylene.
“Saya memodifikasi tanaman agar bisa bereaksi saat terekspos zat tertentu dan berubah warna. Cara ini bisa diterapkan pada semua jenis tanaman.”
Tikus Raksasa Ini Memiliki Racun Mematikan

Berbeda dengan jenis tikus lainnya di dunia, tikus raksasa ini sangat mematikan. Dengan seketika, bulu beracunnya bisa membunuh predator lain.
Seperti halnya mata panah beracun, tikus raksasa dari Afrika ini membawa senjata serupa panah pada tubuhnya. Panah beracun itu adalah bulunya sendiri.
Seperti dikutip dari MSN, ilmuwan Jonathan Kingdon, dari Universitas Oxford, Inggris mengatakan bahwa baru pertama kalinya ditemukan mamalia yang dapat membawa racun tanaman pada tubuhnya tanpa membunuh dirinya sendiri.
Setelah diselidiki, ia menemukan bahwa ternyata tikus sepanjang 36 cm ini mengunyah tanaman beracun Acokanthera schimperi, lalu melumuri tubuhnya sendiri dengan ludah beracun dengan cara menjilati bulu-bulu yang berada pada punggungnya.
Bulu-bulu serupa panah tersebut digunakan bila si tikus dalam keadaan terancam. Ia mengencangkan otot punggung untuk melicinkan bulu-bulu itu lalu menembakkannya ke musuh.
Menurut Kingdon, butuh 30 tahun untuk mengetahui cara tikus ini membunuh predator lain. Tapi ia juga masih belum mengetahui alasan mengapa si tikus tidak keracunan saat mengunyah tanaman beracun itu.
Sepatu Unik Yang Terbuat Dari Keju

Seorang mahasiswi asal London, Lisa Dillon telah berhasil merancang sepatu dengan menggunakan keju sebagai bahan dasarnya. Remaja yang mengambil jurusan fashion di Bath Spa University ini, telah membuat sepasang sepatu high heels dengan menggunakan keju. Karena seluruh sepatu tersebut terbentuk dari keju, maka Lisa menamakan sepatu itu dengan ‘Jimmy Cheese’.
Dalam proses pembuatannya, Dillon menggunakan blok keju cheddar yang kemudian dipahat sedemikian rupa untuk membentuk tumit. Kemudian, sepotong roti keju basi dia gunakan untuk merancang bagian sol sepatu. Sementara bagian depan alas kaki ini dibentuk dari keju cheddar yang jumlahnya lebih banyak. Dan sebagian keju lagi dicairkan untuk memperindah desain.
Setelah melalui proses yang rumit, akhirnya dia berhasil menuntaskan desain alas kaki istimewa itu. Alas kaki ‘Jimmy Cheese’ rencananya dipamerkan di The Royal Bath & West Show, 1-4 Juni 2011, di Bath & West Showground, Shepton Mallet, Somerset, Inggris.
sumber:Forum.vivanews.com
Waduh!! di Korea, Ketagihan Belajar Malah Dirazia Sama Polisi!

Anak-anak Korea keranjingan belajar sampai harus dipaksa berhenti belajar oleh yang berwajib
Jika di Indonesia polisi disibukkan dengan razia tempat-tempat maksiat, di Korea polisi justru disibukkan dengan merazia anak-anak yang ketagihan belajar.
Jika Anda termasuk orangtua yang getol memaksa anak untuk membaca buku pelajarannya, hati-hatilah. Jangan sampai anak Anda justru ketagihan belajar sehingga tidak bisa menimati hidup. Kalau sudah begini, dibutuhkan kekuatan polisi untuk menyetop nafsu belajar anak Anda.
Inilah yang terjadi di Korea Selatan.
Kehidupan di Korea Selatan memang kompetitif. Semua orang ingin anaknya menjadi yang terbaik dari segi akademik. Kawan saya di sana berkisah anaknya yang baru menginjak umur 3 tahun sudah harus masuk sekolah berasrama (boarding school) dari Senin hingga Jumat. Otomatis hanya 2 hari bertemu dengan ayah-bundanya tersayang.
Sori yah, kata saya. Saya nggak tegaan sama anak sampai segitunya. Kalau anak saya menginjak umur 3 tahun nanti palingan masih santai-santai di rumah main sama neneknya.
Saya (dulu) pernah meyakini kompetisi akan mengekstrak kualitas terbaik dari seorang manusia. Ibarat evolusi, kompetisi akan mempertahankan hanya yang terbaik dan yang lemah akan pupus.
Tetapi efek negatifnya tentu ada. Kehidupan kompetitif akan memicu stres. Kita semua tahu apa akibat dari kehidupan yang penuh dengan tekanan; kesehatan kita tergerogoti sehingga mati pelan-pelan, atau mati cara ekspres dengan bunuh diri. Tak heran Korea Selatan mencatat angka bunuh diri TERTINGGI di antara 30 negara maju, melebihi angka bunuh diri negara Jepang.
Itukah yang kita inginkan dalam kehidupan ini? Sukses di usia muda tapi mati pun di usia muda?
Menyadari hal ini, Pemerintah Korea Selatan mengambil tindakan drastik dengan menghentikan kegiatan belajar anak-anak yang dirasa berlebihan. Seperti diberitakan Time Magazine baru-baru ini, pemerintah negeri ginseng itu menurunkan tim kecil berkekuatan 5-6 orang untuk merazia anak-anak yang masih belajar setelah jam 10 malam. Yang menjadi sasaran utama adalah tempat-tempat les/bimbingan belajar yang dikenal dengan nama hagwon. Saking gilanya nafsu belajar anak-anak Korea ini, jumlah pengajar hagwon jauh lebih besar dibanding jumlah guru sekolah.
Apakah anak-anak Korea memang rajin sehingga keranjingan belajar? Tidak juga. Jurnalis Time mendapati mereka bekerja keras (work hard), tetapi tidak bekerja secara cerdik (work smart). Contohnya, anak-anak ini tidur dalam kelas, tetapi malamnya belajar sampai dinihari. Mereka hanya tidur 5-6 jam sehari dari yang seharusnya 9 jam. Seandainya mereka memusatkan perhatian di dalam kelas, niscaya mereka tidak perlu mengikuti les ini-itu di malam hari.
Sebagai perbandingan adalah negara Finlandia sebagai satu-satunya negara maju yang mencatat hasil ujian akademik anak usia 15 tahun sebanding dengan Korea, hanya 13% anak sekolah yang mengambil les tambahan di malam hari. Jadi sebenarnya les-les semacam itu tidak perlu jika si anak benar-benar memusatkan perhatian di sekolah.
Kegilaan belajar anak Korea juga diakibatkan oleh kompetitifnya proses masuk ke perguruan tinggi. Hanya ada tiga perguruan tinggi top di Korea Selatan yang diperebutkan oleh 580 ribu lulusan sekolah menengah. Tingkat penerimaan hanya 14%. Yang gagal biasanya mengambil les hagwon, dan setelah bekerja keras bagai kesetanan selama 2 minggu untuk ujian ulang, 70% di antara mereka bisa masuk ke perguruan tinggi top tersebut.
Saya kadang-kadang kasihan melihat anak-anak Asia. Bukan cuma anak-anak Korea, tetapi Singapura, China, dan juga mulai menjangkiti Indonesia. Siapa sih yang menghendaki anak-anak ini belajar keras? Si anak sendiri atau orangtua? Di Korea, terbukti orangtua menjadi faktor penekan yang menyebabkan anak gila belajar. Orangtua ingin anaknya berhasil secara akademis, dan anaknya menjadi sasaran tekanan.
Saya masih ingat dulu sekali, kalau rapor saya dan teman-teman ada angka merahnya, orangtua memarahi kita. Kini lain cerita. Kalau ada angka merah, orangtua memarahi sang guru. Ini adalah salah satu bukti bahwa ambisi terbesar untuk melihat kesuksesan si anak justru ada pada orangtua.
Juga anak-anak sekarang, usia balita sudah diikutkan les macam-macam. Les balet, les musik, les bahasa, les bela diri. Ini semuanya bukan permintaan si anak, tapi ambisi orangtua untuk melihat anaknya sukses di usia muda. Si anak sendiri tak peduli apakah dia bisa balet atau berkarate.
Di Singapura biasanya antar orangtua saling membanding-bandingkan. Kalau tetangga sebelah mengirim anak balitanya les balet, dia akan menanyai kita dengan nada sinis, “Anakku sudah bisa berbalet, anakmu bisa apa?” Sebagai orangtua tentu akan merasa panas hati dan terpaksa mengirim si anak berbalet ria walaupun si anak sendiri amsih mau bermain saja di rumah. Budaya ini (saling membandingkan) diistilahkan sebagai “kiasu” di Singapura.
Saya dulu umur 5 tahun masih main gundu dan layangan. Malah masih pakai empeng. Berhitung pun baru lancar pada saat kelas 2 SD. Toh bisa meraih gelar doktor di usia sebelum 30 tahun. Saya justru belum melihat bukti anak-anak jaman sekarang yang dicekoki oleh orangtuanya ini mampu meraih kesuksesan. Jangan-jangan malah bunuh diri karena stres!
Di Korea, Rajin Belajar Justru Dirazia Polisi
Foto Wanita Paling Perkasa Di Dunia
Wanita Perkasa di Dunia Memindahkan 6 Mobil hanya dengan Kekuatan Ujung Rambut.
Kekuatannya bisa sampai memindahkan 6 mobil sejauh 50 meter dengan menggunakan kepangan dari rambutnya!



sumber:unic77.tk
Kekuatannya bisa sampai memindahkan 6 mobil sejauh 50 meter dengan menggunakan kepangan dari rambutnya!



sumber:unic77.tk
Ajaib! Sayur Ter0ng Bulat Ini Berlafaz Allah

Temuan yang tidak diduga oleh Jimi (29), warga Perumnas Bengkurat, Kelurahan Pagar Agung, Kecamatan Lahat. Dia menemukan tulisan mirip lafaz Allah di dalam buah terung bulat.
Buah terung bulat itu berasal dari pemberian keluarganya yang ada di Desa Tanjung Karangan, Kecamatan Gumay Talang, Lahat, yang dibeli sebagai oleh-oleh setelah selesai panen terung yang ada di kebun di sana.
Dari pengamatan yang ada lafaz Allah di dalam buah sayuran itu merupakan rangkaian bijinya yang tersusun rapi di daging sehingga tulisan tersebut jelas dibaca saat terong tersebut terbelah dua. Hingga kemarin, buah yang dimasukkan dalam kulkas itu juga tampak masih awet dan segar, dan disimpan oleh si empunya Jimi karena merasa takjub dengan temuan tersebut.
Jimi menuturkan, buah terong sebagai buah tangan dari keluarganya ini didapatnya, pada Sabtu (24/9) lalu saat musim panen karena tanaman terong miliknya tidak menghasilkan dan rencananya untuk dimasak sebagai kebutuhan sehari – hari.
Kata dia, setelah menerima buah sayuran tersebut kemudian ditaruhnya di dalam kulkas bersama sayuran lainnya. Namun Jumat (30/9) pagi Septina Istrinya bermaksud memasak dan saat memotong terong tersebut kaget melihat tulisan arab didalam terong berlafaz Allah karena belum pernah dilihat sebelumnya dan tertata rapi dari susunan biji yang ada.
“Tidak ada firasat sama sekali dan saat memotong seperti biasanya seteleh mendapati keanehan istri saya langsung berteriak keheranan,” terang jimi.
Jimi kemudian mengambil buah terong melihat sendiri meyakinkan yang sudah dikatakan istrinya. Jimi juga heran karena pertama kali dilihatnya secara langsung terong tersebut yang kemudian disimpannya di kulkas.
“Begitu saya amati kebenaran dari ucapan istri tersebut di daging terong itu tersusun rapi biji dengan tulisan Allah ini membuktikan kebesaran Allah,” jelasnya, kemarin (30/9).
Jimi kemudian memberi tahu wartawan untuk mengamati tulisan yang tertera di tengah-tengah buah terong itu. “Buah ini rencana mau saya awetkan dahulu kalau bisa dan belum ada juga yang mengetahui hal ini,” ucapnya masih dengan wajah keheranan.
Hebat, Berjalan Kaki Selama 11 Tahun Keliling Dunia Lewati 64 Negara
Setelah melalui masa 11 tahun, 46 ribu mil, melewati 64 negara, dan menghabiskan 53 pasang sepatu akhirnya pria berkebangsaan Kanada, Jean Beliveau kembali ke rumahnya dari perjalanan panjang berkeliling dunia.Beliveau kini berusia 56 tahun, meninggalkan rumahnya saat usianya genap 45 tahun pada 18 Agustus 2000 saat bisnis kecil-kecilan yang dia geluti mengalami kebangkrutan. Saat itu dia meninggalkan dua orang anak yang telah beranjak dewasa dan seorang kekasih, seperti ditulis Orange.co.uk, Jumat (30/9/2011).
Sang kekasih, Luce Archambault terus mendukung aksi sang pacar. Sambil menunggu kedatangan Beliveau dari perjalanan panjang, dia membuat sebuah website, wwwalk.org.
Selama 11 tahun, Beliveau berkeliling dunia, melewati gurun dan pegunungan. Dia mengaku sangat mengagumi Meksiko dalam perjalanannya selama sembilan hari di sana. Saat berada di Meksiko, dia selalu mengenakan turban, demkian pula saat berada di Sudan, dia pun memelihara jenggot.
Saat berada di Afrika, dia pun memakan serangga, seperti warga setempat, di Korea dia juga makan daging anjing. Sementara saat di China, dia pernah makan ular. Saat berada di Filipina, dia mendapat kawalan ketat dari pihak kepolisian.
Dalam situs wwwalk.org, tertulis bahwa misi Beliveau berkeliling dunia berjalan kaki adalah untuk perdamaian bagi anak-anak di seluruh dunia.
Gadis 3 Tahun Hobi Makan Bata & Bohlam
Seorang gadis kecil kecanduan memakan obyek berbahaya. Seramnya, gadis ini senang memakan bola lampu (bohlam) serta batu bata. Natalie Hayhurst (3) berada dalam risiko konstan keracunan karena kondisi langka yang membuatnya bernafsu memakan obyek berbahaya.
Pada Februari lalu, gadis malang ini hampir meninggal setelah memakan bohlam yang ia ambil dari kamar tidurnya. Makanan favorit gadis mungil ini adalah batu dan kayu. Ibunya, Colleen Hayhurst (31), mengatakan, tiap hari merupakan pertarungan keinginan konstan ketika ia terus mencoba menghentikan puterinya memakan sesuatu yang bisa membunuhnya. “Ia tak terlalu sering memakan beling karena sakit namun ia akan terus mencoba memakan batu dan kayu yang ia temukan di taman.
Karenanya, saya sering menelepon saluran bantuan racun jika Natty mencoba memakan benda berbahaya itu,” paparnya. Kondisi yang dialami Natalie disebut Pica, kondisi yang dikarakterisasi melalu nafsu makan pada zat tak bernutrisi. “Kekhawatiran terbesar saya jika suatu hari nanti ia memakan benda beracun dan kami tak ada di dekatnya untuk menyelamatkannya,” ujarnya seperti dikutip Dailymail.

















